Saat Aku Jatuh, Dia Tidak Pergi
Aku pernah berpikir bahwa saat seseorang jatuh terlalu dalam, Tuhan akan menjauh. Bahwa ada batas kesabaran-Nya. Bahwa ada titik di mana Dia akan berkata, “Cukup. Kamu terlalu jauh.” Dan jujur… aku merasa aku sudah melewati titik itu. Aku pernah ada di fase hidup di mana aku tidak lagi mengenali diriku sendiri. Tersenyum di luar, tapi kosong di dalam. Terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun. Hari-hariku berjalan seperti biasa, tapi rasanya… hampa. Malam justru menjadi waktu yang paling jujur karena di situ aku tidak bisa lagi bersembunyi. Pikiran datang tanpa permisi. Rasa takut, penyesalan, dan kelelahan bercampur jadi satu. Aku tahu aku sedang jatuh. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara berhenti. Aku mencoba memperbaiki semuanya dengan caraku sendiri. Berpikir lebih keras. Bekerja lebih banyak. Menutup luka lebih rapat. Aku berusaha menjadi “baik-baik saja” karena aku pikir itu yang harus aku lakukan. Tapi semakin aku berusaha mengontrol hidupku...