Saat Aku Jatuh, Dia Tidak Pergi

Aku pernah berpikir bahwa saat seseorang jatuh terlalu dalam, Tuhan akan menjauh.

Bahwa ada batas kesabaran-Nya.
Bahwa ada titik di mana Dia akan berkata, “Cukup. Kamu terlalu jauh.”

Dan jujur… aku merasa aku sudah melewati titik itu.

Aku pernah ada di fase hidup di mana aku tidak lagi mengenali diriku sendiri.
Tersenyum di luar, tapi kosong di dalam.
Terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Hari-hariku berjalan seperti biasa, tapi rasanya… hampa.
Malam justru menjadi waktu yang paling jujur karena di situ aku tidak bisa lagi bersembunyi.
Pikiran datang tanpa permisi. Rasa takut, penyesalan, dan kelelahan bercampur jadi satu.

Aku tahu aku sedang jatuh.
Tapi aku tidak tahu bagaimana cara berhenti.

Aku mencoba memperbaiki semuanya dengan caraku sendiri.
Berpikir lebih keras. Bekerja lebih banyak. Menutup luka lebih rapat.
Aku berusaha menjadi “baik-baik saja” karena aku pikir itu yang harus aku lakukan.

Tapi semakin aku berusaha mengontrol hidupku, semakin aku sadar… aku tidak punya kendali apa-apa.

Dan yang paling menyakitkan, ku mulai merasa jauh dari Tuhan.
Atau mungkin… aku yang menjauh terlalu jauh.

Sampai di satu malam, aku benar-benar habis.

Bukan hanya lelah secara fisik, tapi lelah di jiwa.
Lelah mencoba. Lelah bertahan. Lelah menjadi seseorang yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.

Aku tidak punya kata-kata indah.
Tidak ada doa panjang.
Tidak ada iman yang kuat.

Aku hanya duduk diam… dengan hati yang berantakan.

Dan untuk pertama kalinya, aku berkata dengan jujur:
“Tuhan Yesus… kalau Engkau masih mau dengar aku… tolong aku.”

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,
dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
— Mazmur 34:19

Tidak ada petir.
Tidak ada suara dari langit.
Tidak ada perubahan besar yang langsung terlihat.

Tapi ada sesuatu yang terjadi.

Sesuatu yang pelan… tapi nyata.

Bukan di lua tapi di dalam.

Hatiku yang selama ini keras, mulai retak.
Air mata yang selama ini kutahan, akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.
Dan di tengah tangisan itu… ada rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Tenang.

Bukan karena masalahku hilang.
Tapi karena aku merasa… ada yang memelukku.

Yesus Kristus tidak datang dengan suara yang menggelegar.
Dia datang dalam diam.
Dalam kelembutan yang bahkan lebih kuat dari semua ketakutanku.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
— Matius 11:28

Sejak malam itu, hidupku tidak langsung berubah menjadi mudah.
Masalah tetap ada.
Realita tetap harus dihadapi.
Air mata… masih jatuh.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Aku tidak lagi merasa sendirian.

Ada kekuatan yang tidak bisa aku jelaskan, yang muncul justru saat aku merasa paling lemah.
Ada pengharapan kecil yang tetap menyala, bahkan di hari-hari tergelapku.

Seolah ada tangan yang memegangku pelan, tidak memaksa… tapi tidak pernah melepaskan.

“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau,
jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau.”
— Yesaya 41:10

Aku mulai belajar lagi… percaya.

Bukan percaya bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginanku.
Tapi percaya bahwa bahkan ketika semuanya berantakan, aku tetap ada dalam genggaman-Nya.

Dan perlahan… tanpa aku sadari… Dia mengubahku.

Bukan situasiku dulu.
Tapi hatiku.

Dia mengajariku untuk duduk di tengah kekacauan tanpa kehilangan damai.
Dia mengajariku untuk menangis tanpa kehilangan harapan.
Dia mengajariku untuk jatuh… tanpa kehilangan arah pulang.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu…
rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,
untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
— Yeremia 29:11

Dari hati yang penuh ketakutan… aku belajar berserah.
Dari hati yang penuh luka… aku mulai mengenal arti pemulihan.
Dari hati yang merasa tidak layak… aku mulai mengerti bahwa kasih tidak harus diperjuangkan karena sudah diberikan.

“Kasih setia TUHAN tidak berkesudahan,
rahmat-Nya tidak habis-habisnya;
selalu baru tiap pagi.”
— Ratapan 3:22–23

Ada hari-hari di mana aku masih jatuh lagi.
Masih takut lagi.
Masih ragu lagi.

Tapi sekarang aku tahu satu hal:

Aku tidak jatuh sendirian.

Sekarang aku mengerti…

Saat aku jatuh, Dia tidak pergi.
Saat aku menjauh, Dia tidak berhenti mencari.
Saat aku diam, Dia tetap mendengar.
Dan saat aku kembali dengan hati yang hancur sekalipun, Dia tidak menolak.

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau
dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
— Ibrani 13:5

Dia tidak bertanya, “Kenapa kamu sejauh ini?”
Dia hanya membuka tangan-Nya… dan memelukku.

Dan di pelukan itu, aku menemukan sesuatu yang selama ini aku cari ke mana-mana:

Kasih yang tidak berubah.
Kasih yang tidak menyerah.
Kasih yang tetap tinggal… bahkan ketika aku tidak pantas menerimanya.

Karena ternyata…
bukan aku yang bertahan sampai sekarang.

Tapi Dia… yang tidak pernah melepaskanku.

Terimakasih Tuhanku.

Comments

Popular posts from this blog

Di ujung senja

Luka yang membawa saya pulang.

Hanya sebentar, tapi berarti..