Di ujung senja
"Di Ujung Senja, Aku dan Dia"
Kami bertemu saat hujan turun ringan di sore yang teduh. Tak ada yang istimewa hari itu, kecuali caranya menatapku seolah waktu sempat berhenti sebentar. Dia datang seperti daun jatuh di jendela: tenang, tak mengganggu, tapi meninggalkan tanda.
Kami tidak banyak berkata. Hanya berjalan berdampingan, tertawa pada hal-hal kecil, dan saling meminjam kata saat dunia terasa sepi. Dalam diam kami, ada kenyamanan yang sulit dijelaskan semacam rumah yang tak dibangun, tapi terasa ada.
Namun seperti semua yang hidup, cerita kami pun punya batas. Bukan karena tidak cinta, tapi karena hidup kadang memilih arah tanpa bertanya.
Namun seperti semua yang hidup, cerita kami pun punya batas. Bukan karena tidak cinta, tapi karena hidup kadang memilih arah tanpa bertanya.
Perpisahan itu tidak datang tiba-tiba. Ia mengetuk perlahan, hari demi hari, sampai akhirnya kami duduk di taman tempat pertama kali bertemu, saling menatap dengan mata yang tahu: ini akhir yang tak bisa dihindari.
“Aku akan baik-baik saja,” kataku, berbohong setengahnya.
Dia mengangguk, tapi tidak bicara. Dan dalam hening itu, aku sadar: keikhlasan bukan tentang melupakan, tapi tentang menerima bahwa tak semua yang kita sayangi harus kita genggam selamanya.
Aku menatap langit yang berubah jingga, lalu menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Hati ini tidak sepenuhnya rela, tapi cukup kuat untuk melepaskan. Karena cinta, kadang tidak berakhir di pelukan, Ia selesai dalam doa yang diam-diam disampaikan setiap malam.
“Aku akan baik-baik saja,” kataku, berbohong setengahnya.
Dia mengangguk, tapi tidak bicara. Dan dalam hening itu, aku sadar: keikhlasan bukan tentang melupakan, tapi tentang menerima bahwa tak semua yang kita sayangi harus kita genggam selamanya.
Aku menatap langit yang berubah jingga, lalu menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Hati ini tidak sepenuhnya rela, tapi cukup kuat untuk melepaskan. Karena cinta, kadang tidak berakhir di pelukan, Ia selesai dalam doa yang diam-diam disampaikan setiap malam.
Dan aku tahu, meski tidak lagi bersamaku, Dia akan tetap tinggal di satu sudut waktu yang tak pernah benar-benar pergi: di ujung senja, tempat pertemuan dan perpisahan berdamai.
Setelah semuanya berakhir dengannya, hari-hariku terasaseperti ruang kosong yang terlalu luas untuk kutinggali sendirian. Tidak ada lagi suara pesan masuk yang biasanya jadi alarm kecil di hatiku, tidak ada lagi tawa yang muncul tiba-tiba di tengah siang yang sibuk.
Pagi-pagi terasa paling berat. Kopi yang dulu terasa hangat kini hanya pahit. Waktu yang begitu berjalan lambat saat kuharapkan berjalan cepat. Di kantor, aku berusaha tenggelam dalam tumpukan laporan, meeting, dan deadline seakan sibuk bisa jadi obat yang mujarab. Tapi begitu pulang, sepi menungguku di sepanjang jalan.
Setelah semuanya berakhir dengannya, hari-hariku terasaseperti ruang kosong yang terlalu luas untuk kutinggali sendirian. Tidak ada lagi suara pesan masuk yang biasanya jadi alarm kecil di hatiku, tidak ada lagi tawa yang muncul tiba-tiba di tengah siang yang sibuk.
Pagi-pagi terasa paling berat. Kopi yang dulu terasa hangat kini hanya pahit. Waktu yang begitu berjalan lambat saat kuharapkan berjalan cepat. Di kantor, aku berusaha tenggelam dalam tumpukan laporan, meeting, dan deadline seakan sibuk bisa jadi obat yang mujarab. Tapi begitu pulang, sepi menungguku di sepanjang jalan.
Malam adalah ujian terberat. Pikiran tentangmu seperti gelombang pasang yang datang tanpa izin, membawa potongan kenangan yang tak kuminta. Ada malam-malam di mana aku hanya duduk di sudut kamar, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini demi masa depan yang lebih baik.
Aku mulai belajar menata ulang hidupku pelan-pelan. Mengisi waktu dengan hal-hal kecil yang dulu kupinggirkan: membaca buku sampai larut, menanam bunga di balkon, atau sekadar berjalan sendirian di taman kota. Tidak mudah, tapi aku tahu, setiap langkah menjauh darimu adalah langkah menuju versidiriku yang lebih kuat. Karena pada akhirnya, kehilangan mengajariku satu hal : Aku mungkin pernah merasa seluruh hidupku ada padamu, tapi ternyata aku tetap bisa berdiri walau tanpamu.
--oo--
Setahun telah berlalu. Waktu memang berjalan, tapi tidak pernah benar-benar menyembuhkan. Entah sudah berapa banyak air mata yang jatuh tanpa suara, berapa banyak doa yang melangit setiap kali bayangan tentangnya datang menyelinap. Tentang dirinya sosok yang tak pernah tergantikan, meski aku berkali-kali memaksa hatiku untuk percaya sebaliknya.
“Huft… sampai kapan lagi aku mampu melupakannya, Tuhan?” desahku lirih, kalimat yang setiap pagi tanpa gagal menjadi mantra di sela napasku yang berat.
Setiap hari hanya aku yang meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih pantas berada di dunia ini, hanya aku yang sanggup merangkul diriku sendiri ketika dunia terasa terlalu dingin.
Pukul 18.30 tepat, kupejamkan sejenak mata, menutup laptop dengan perasaan kosong. Seperti biasa, setelah bekerja seharian, aku memilih berlari menembus gelapnya malam, menantang kenangan yang tak pernah benar-benar mati. Malam ini aku memberanikan diri untuk mengambil rute berlari ke daerah Sudirman, Jakarta. Jalanan yang selama setahun ini kuhindari. Jalanan tempat aku pernah menunggunya setiap malam, tempat setiap lampu kota terasa seperti saksi bisu cerita kami.
Pukul 18.30 tepat, kupejamkan sejenak mata, menutup laptop dengan perasaan kosong. Seperti biasa, setelah bekerja seharian, aku memilih berlari menembus gelapnya malam, menantang kenangan yang tak pernah benar-benar mati. Malam ini aku memberanikan diri untuk mengambil rute berlari ke daerah Sudirman, Jakarta. Jalanan yang selama setahun ini kuhindari. Jalanan tempat aku pernah menunggunya setiap malam, tempat setiap lampu kota terasa seperti saksi bisu cerita kami.
Aku menarik napas dalam-dalam. Pandanganku jatuh pada ikon Jakarta, patung Selamat Datang yang berdiri anggun di tengah kota, lampu-lampu malam menari bersama bayangan gelap. Langkahku kupelankan, menata helaan napas yang terasa semakin berat. Dalam hati, doa yang sama kembali terucap, lirih dan tajam: “Jangan pertemukan aku dengannya tidak di sini, tidak dengan cara apa pun, tidak di ketidaksengajaan manapun.”
--oo--
--oo--
Smartwatch di pergelangan tanganku bergetar. 3 KM sudah kulalui malam ini. Cukup. Tubuhku terasa letih, nafasku pun mulai berat. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 tepat.
Dengan langkah perlahan, aku kembali menuju kendaraan yang terparkir.
Aku melewati gedung kantornya. Hampir semua lampu telah padam, menyisakan kegelapan yang dingin, senyap, dan sunyi. Langkahku otomatis melambat. Pandanganku terangkat ke atas, ke lantai tempat ia dulu sering berada. Napas panjang keluar, berat dan penuh getir. “Dia baik-baik saja kan, Tuhan?” gumamku lirih, setengah doa, setengah luka.
Aku melewati gedung kantornya. Hampir semua lampu telah padam, menyisakan kegelapan yang dingin, senyap, dan sunyi. Langkahku otomatis melambat. Pandanganku terangkat ke atas, ke lantai tempat ia dulu sering berada. Napas panjang keluar, berat dan penuh getir. “Dia baik-baik saja kan, Tuhan?” gumamku lirih, setengah doa, setengah luka.
Baru saja aku hendak melanjutkan langkah, mataku menangkap sebuah sosok. Dari belakang, ia berjalan pelan, pundaknya sedikit bungkuk, menanggung beban tas yang tampak terlalu berat. Ada sesuatu yang begitu familiar. Cara kakinya melangkah. Cara bahunya bergoyang pelan. Terlalu tidak asing bagiku.
Aku terhenti. Dunia seakan berhenti bersamaan denganku. Mataku membesar, jantungku berdentum kencang.
Aku terhenti. Dunia seakan berhenti bersamaan denganku. Mataku membesar, jantungku berdentum kencang.
Telapak tanganku dingin, kakiku bergetar. Itu… dia kah? teriak ku dalam hati, panik sekaligus rindu yang menusuk.
Namun sebelum logika sempat menyusul emosiku, bayangan itu perlahan menjauh, menuruni tangga dengan langkah pelan, lalu hilang begitu saja. Tinggal aku yang terpaku, berdiri kaku, menatap kosong, tak mampu memastikan apakah itu dirinya atau hanya bayangan yang diciptakan rinduku sendiri.
Namun sebelum logika sempat menyusul emosiku, bayangan itu perlahan menjauh, menuruni tangga dengan langkah pelan, lalu hilang begitu saja. Tinggal aku yang terpaku, berdiri kaku, menatap kosong, tak mampu memastikan apakah itu dirinya atau hanya bayangan yang diciptakan rinduku sendiri.
--oo—
Bersambung
Comments
Post a Comment