Luka yang membawa saya pulang.

Tahun 2025 datang seperti pagi yang asing dan tenang, tapi membawa bayangan panjang di dalam hati saya.

Saya memasuki tahun itu dengan penuh tanggung jawab, penuh tekanan, dan penuh hal yang harus saya tanggung sendirian.

Di luar, saya terlihat kuat dan tegas.

Di dalam, saya sering kali merasa seperti pecahan kaca yang saya susun sendiri agar tetap bisa berfungsi.


Hidup saya berjalan rutin… sampai suatu hari, sebuah rasa datang tanpa saya undang.

Rasa yang membangunkan sesuatu dalam diri saya begitu hangat, lembut, dan membuat saya percaya bahwa hati saya masih hidup.

Rasa yang membuat dunia yang sempat kelabu terlihat lebih terang.


Namun yang terang itu perlahan padam.

Dan ketika padam, gelapnya menelan saya dalam sunyi yang sulit dijelaskan.


Saya merasakan kehilangan yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapa pun.

Kecewa yang tidak tahu harus dilampiaskan ke mana.

Rindu yang menggantung meski saya tahu tidak ada tujuan.


Ada hari-hari ketika saya tetap pergi bekerja dengan kepala tegak,

menyelesaikan pekerjaan, menghadapi tenggat waktu, mengambil keputusan..

sementara di balik meja saya, hati saya berjuang untuk tidak runtuh.


Ada malam-malam ketika saya duduk sendirian dalam gelap,

menatap lantai,

menahan napas yang berat,

dan bertanya dalam hati:


“Tuhan, sampai kapan aku harus merasa seperti ini?”

“Kenapa rasanya begitu dalam?”


Tuhan tidak menjawab dengan suara.

Ia menjawab dengan kekuatan kecil:

keberanian untuk bangun lagi esok hari,

ketenangan yang datang sesekali di tengah kekacauan,

dan napas yang tetap berlanjut meski hati saya ingin berhenti.


Dan pada suatu malam yang sangat biasa, tapi terasa berbeda,

saya melihat sesuatu yang dulu membuat saya hancur.

Namun kali ini, tidak ada sesak.

Tidak ada gemetar.

Tidak ada air mata yang jatuh tanpa peringatan.


Yang ada hanya hening yang damai.

Seolah Tuhan membelai kepala saya dan berkata:


“Sudah cukup… sekarang saatnya sembuh.”


Di situlah saya sadar bahwa saya mulai pulih.

Bukan karena rasa itu hilang sepenuhnya,

tapi karena Tuhan mengganti sakitnya dengan kekuatan yang tidak saya sadari tumbuh.


Menjelang akhir tahun, saya melihat diri saya di cermin.

Perempuan yang berdiri di sana bukan lagi perempuan yang penuh luka seperti di pertengahan tahun.

Ia adalah seseorang yang bertahan, meski sunyi.

Seseorang yang belajar berdiri lagi tanpa pegangan.

Seseorang yang bisa berkata:

“Saya tetap hidup. Saya tetap berjalan. Dan Tuhan tidak pernah meninggalkan saya.”


Tahun 2025 adalah tahun air mata,

namun juga tahun ketika Tuhan menumbuhkan kekuatan paling lembut dalam diri saya.


Dan pada akhirnya, saya yang hampir hilang akhirnya menemukan cara untuk bernapas lagi.


Comments

Popular posts from this blog

Di ujung senja

Hanya sebentar, tapi berarti..