Menunggumu

Menunggumu-



Aku hanya bisa membayangkan saat itu, saat aku dan dirinya berlarut dalam pekerjaan kami. 

Saat itu aku memang sedang menenggelamkan diriku dengan pekerjaanku, agar aku bisa terus bersamanya, memandang dirinya dan tertawa bersamanya. 

 

Namun itu sudah berlalu, tidak ada lagi saat itu. Dia pergi menjauh, dia memilih untuk tidak berlarut terlalu jauh. Kini aku hanya bisa memandang tempatnya yang kosong, hanya bisa menanti setapak jalan yang tak mungkin lagi dilalui olehnya saat ini.

 

Aku merindukannya, sangat merindukannya.. 

Waktu yang akan membantuku untuk bisa mengembalikan semuanya kesediakala, dan akan kukorbankan setiap rasa yang ada untuk dirinya.

 

6 tahun kemudian.

Aku kini menjadi apa yang aku harapkan, aku meraih mimpiku.

“Bu, sudah sampai kantor” suara Pak Opie menyadarkan aku dari lamunanku disepanjang perjalanan.

“Owalah sudah sampai yaa, pak. terimakasih ya. Nanti malam bapak pulang saja, biar saya saja yang menyetir sendiri” Kata ku sambil menepuk pundaknya.

Pak Opie, ia adalah supirku. Sudah 5 tahun beliau bersamaku menemani hari-hari dalam perjalananku. Ia bukan hanya menjadi supirku namun sudah menjadi konsultan pribadiku, segala hal yang mau kulakukan selalu kuharapkan pendapatnya. 

 

Kulangkahkan kakiku memasuki ruanganku, ku sapa satu persatu tim ku.

“Bu, ini jadwal meeting untuk hari ini. Siang ini Ibu ada meeting dengan Asosiasi, lalu ada meeting dengan blaa..blaaa..blaaaa ………… (tidak lagi ku dengarkan dengan baik apa yang sekretarisku katakan) 

“Iyaa Santi, terimakasih, nanti temani saya ya.” Kataku.

Ada yang mengusik pikiranku saat ini, lamunanku disepanjang perjalanan tadi masih terus membekas dalam ingatanku. 

 

Malam pun tiba, semua hal yang sudah terjadwal dengan baik telah ku lakukan dengan baik pula.

Kulangkahkan kaki ku ke mobil yang sudah tersedia didepan lobby. 

“Terimakasih yaa pak, saya pulang duluan” sapa ku kepada security yang bertugas dimalam itu.

“Iya bu, hati-hati diperjalanan” jawabnya.

Waktu menunjukkan pukul 20.30 malam, kulaju mobilku dengan cepat, tujuanku bukan langsung menuju rumah namun kesalah satu taman yang sering kusinggahi ketika aku sedang lelah. 

 

Tidak berapa lama, aku tiba di sebuah taman. Taman yang saat malam hari penuh dengan terangnya warna warni lampu dan sangat tenang sekali. 

Aku pun duduk disalah satu kayu yang menghadap ke arah gedung-gedung tinggi dan ku tenangkan pikiranku.

“Huufff..” ku tarik nafasku begitu dalam. 

Yaa, ketika fisik dan pikiran ini lelah, aku lebih memilih untuk menenangkan semuanya ditempat ini. 

 

Hari ini lamunan itu masih terus mengusikku, lamunan ku tentang dirinya yang masih ada didalam pikiranku.

“Tian.. apa kabarmu saat ini.?” Kataku dalam hati sambil menghela nafas panjang dan kupandangi langit malam yang tak bertabur bintang. 

 

--oo--

Aku kini hidup sendiri bersama kedua anakku, tepat 3 tahun yang lalu aku dan mantan suamiku sepakat untuk berpisah. Bukan jalan seperti ini yang mau aku jalani, namun hanya dengan jalan seperti ini kami bisa berdamai dan menjalani kehidupan bersama anak-anak kami dengan baik.

Ku perbaiki kehidupanku, ku raih mimpi ku.. Ku hiraukan beberapa hati yang ditawarkan untukku, karena saat ini fokusku adalah anak-anak dan mimpiku.

 

Weekend pun tiba, seperti biasa hari-hari dimana aku dan anak-anakku menghabiskan waktu bersama. Kali ini ku ajak mereka berlibur keluar kota, ke tempat dimana ada indahnya pantai yang menenangkan. 

Kurebahkan diriku memandang langit berwarna syahdu bertanda malam akan segera datang, ku lihat anak-anakku masih berlarian di sepanjang pantai. 

“Kaa, adekk.. ayoo.. udah mau malam, kita siap-siap makan malam diluar yaa..” kataku dengan kencang agar terdengar oleh mereka dari kejauhan.

“Iyaa Maaaa..” kompak mereka menjawab dan mereka segera masuk kedalam untuk membersihkan diri.

 

Kami pun tiba disebuah restoran yang memang biasa kami singgahi, aku memesan beberapa makanan yang menjadi kesukaan kami. Kulihat anak-anakku makan dengan lahapnya, sambil berkata didalam hati “Sampai kapan pun mama akan selalu menemani kalian, mama yang akan selalu menjadi pelindung kalian.”

 

Setelah selesai bersantap malam, dan anak-anak sedang asik bermain. Kulangkahkan kaki ku ke tepian pantai. Kulihat air begitu tenang dimalam hari ditemani angin berhembus lembut yang semakin menambah keindahan suasana malam di pantai ini.

Kupandangi langit yang hanya beberapa bintang menyala terang, aku masih memikirkannya, memikirkan dirinya yang entah berada dimana. 

 

Tiba-tiba pandanganku tertuju ke anak perempuan yang sedang berlari sendirian ke arah pantai, kulihat sekelilingnya tidak ada yang mengejar, dengan cepat ku ikuti arah lari anak itu dan ku genggam tangannya. Ia melihat ke arahku, dia anak perempuan yang cantik kuperkirakan usianya sekitar 5 tahun. 

 

Kusapa anak itu “Hai sayang, kamu mau kemana Nak.? Mana mama dan papa mu”

Ia terdiam namun tidak melepaskan genggamanku,sambil ia menjawab “Mamaku diatas sana” sambil menunjuk langit. Aku pun sekarang yang terdiam, aku melihat keatas. Apakah maksudnya mama nya sudah tiada. Ku lanjutkan pertanyaanku “Papa mu mana sayang.?” Kuusap rambutnya yang terurai karena angin malam. “Papa disana” jawabnya sambil menunjuk sebuah restoran yang sama denganku.

“Ya udah ayo tante antar ke papamu ya sayang, diluar sini anginnya kencang, nanti kamu bisa masuk angin” sambil ku gendong dia dan menuju ke arah restoran.

 

Setelah sampai didalam restoran, kulihat ada seorang lelaki sebayaku yang sibuk bertanya ke semua pengunjung restoran. 

“Nak, itu papa mu yaa.?” tanya ku, “Iya tante, itu papaku” jawabnya. Ku dekati sesosok lelaki itu dan aku pun berkata “Pak, maaf ini anak bapak mencari bapak.?” Sapa ku.

 

Ia pun menoleh kebelakangku dan dengan cepat menarik anak perempuan itu dari gendonganku, sambil memeluk anak itu dan berkata “Desi sayang, kamu darimana Nak, papa mencari kamu” 

 

Tapi ada hal yang membuat ku terdiam tak bersuara, seketikatubuhku kaku, jantungku berhenti sekian detik, suaraku tak sanggup ku keluarkan dari mulut ini.

“Yaa Tuhaann”dalam hatiku. 

“Mba, terimakasih yaa” sambil menoleh kearahku dan ia pun terkejut 

“Haahh, Dianaaaa...??”serunya kepadaku.

“Tiiiii…aaannnn…” aku menyapa nya dengan terbata.

“Ya Tuhan, kamu apa kabar? Kita bisa ketemu disini?” kataku dengan pelan karena sekuat tenaga kupertahankan jantung ini yang berdetak dengan cepat.

“Haii Naa, iyaa aku tak menyangka kita bisa bertemu disini?Aku kabar baik, kamu apa kabarnya.?” Tanya nya sambil tersenyum.

Ya Tuhan, senyum yang kurindukan itu kini ada dihadapanku (dalam hatiku) 

 

“Owhh, iyaa kabarku juga baik,, ini anakmu Tian.?”kataku.

“Iya Na, ini Desi anakku perempuan. Btw kamu disini sama siapa?” tanya nya. 

“Owhh, aku disini sama anak-anakku, itu mereka (sambil menujuk kearah 2 anak perempuan)”

“Kalau kamu Tian hanya berdua saja disini? Tanyaku 

“Ohh tidak aku bersama..” sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seorang perempuan mendekati kami dan berkata “Ya ampun Desi sayang, kamu kemana saja..” katanya.

Tian melihatku sambil berkata “Owhh, Rika kenalkan ini Diana teman kantorku dulu dan Na, kenalkan ini Intan, dia… “(sekali lagi sebelum ia menyelesaikan kalimatnya) perempuan itu berkata “aku tunangannya Tian”.

 

Aku pun terkejut “Hah, tunanganmu Tian.?” Tanyaku, 

“Iya Na, sudah 3 tahun yang lalu ibu anak-anak berpulang, dan baru 6 bulan ini aku dan Rika bertunangan”katanya sambil menatapku, entah apa arti tatapan matanya atau mungkin dia mengetahui keterkejutan aku karena hal ini.

 

“Ya ampun maafkan aku Tian, aku tidak tahu berita tentang ibu anak-anak.”kataku dengan pelan, namun perempuan itu dengan seketika merangkul tangannya Tian dan berkata 

“Iya tidak apa-apa, sekarang Tian dan anak-anak sudah ada aku, ya kan sayang.?”sambil melihat Tian.

“Owhh, iyaa maaf ya kalau begitu, ehmm, maaf Tian aku duluan ya, sudah malam sepertinya anak-anakku sudah mau pulang”kataku pamit (yang sebenarnya masih ingin sekali malam itu aku berbincang panjang dengannya)

“Ohh, begitu… ehhmm, Oke Na, sekali lagi terimakasih ya sudah menemukan anakku”katanya. 

“Iya, sama-sama..aku duluan ya” sambil aku mengelus rambut desi yang sedang tidur didekapannya.

Dan aku pun berlalu dari mereka sambil mengandeng anak-anakku.

 

Ya Tuhan, Engkau mempertemukan kami kembali disaat sepertiini, setelah 6 tahun aku merindukannya, dan kini ia ada dihadapanku. Sekuat tenaga ku langkahkan kakiku dan tak terasa air mata ini pun menetes.

 

Hari pun berganti, saatnya kami pulang ke Jakarta. Tiba di bandara ternyata pesawat kami tertunda.

“Sebentar ya kak, mama cari kopi dulu disana, kalian tunggu disini dulu” kataku kepada mereka berdua.

 

Ku masuki sebuah coffee shop, dan kupesan satu gelas kopi susu. 

“Dianaa..”sebuah suara memanggilku., dan aku pun menoleh ke belakang.

“Hahh, Tiann, ya Tuhan kita ketemu lagi” kataku.

“Iya Na, kita ketemu lagi, kamu balik ke Jakarta hari ini ya.?” Tanya nya 

“Iya, aku hari ini pulang ke Jakarta, kamu sendiri gimana?” kataku lagi. 

“Owh, aku sedang menjemput anak ku yang laki-laki, dia baru bisa kesini hari ini” jawabnya. 

“Oh ya, kalau tidak salah Daniel yaa anakmu yang pertama” kataku.

“Iya na, si Daniel masih ingat ya nama anakku, sekarang dia sudah remaja”jawabnya.

“Iyaa, waktu berjalan dengan cepat ya, ehhmm.. sekali lagi maaf ya Tian aku tidak tahu tentang berita itu”kataku

“Iya Na, tidak apa-apa,semuanya sudah berlalu dan kami harus tetap menjalani kehidupan ini kan” katanya dengan senyum kecil.

 

“Iya Tian, ehmm maaf sepertinya aku harus kembali, aku takut tertinggal pesawat” aku pun segera melangkahkan kaki ku, dan tiba-tiba ia berkata,

“Naaa, tungguu..” katanya 

“Iya Tian, ada apa?” aku menoleh kearahnya. 

“Bisa kita berbicara sebentar, Na.?” tanyanya.

“Owhh, iya boleh mau dimana? di lantai 9 J.?” Sambil aku tersenyum kearahnya, dan ia pun memberikan senyumannya juga kepadaku.

(Lantai 9 saat kami bekerja Bersama, mempunyai banyak kenangan untuk kami berdua, dimana kami bisa saling berpandangan dan bercerita ditemani angin malam yang syahdu) 

 

Kami pun duduk berhadapan, aku masih mengingat kebiasaannya yang apabila duduk lebih memilih disampingku daripada didepanku.

“Na, maaf aku mau tanya, pertanyaan pribadi.?” tanya nya.

“Iya Tian, ada apa.? Jawabku.

“Kamu hanya bertiga dengan anak-anakmu disini?” tanyanya

“Iya, aku hanya bertiga, jika pertanyaan mu kearah yang lain, aku sudah 3 tahun ini single parent” jawabku

“Oh maaf Na, aku tidak tahu”katanya

 

Kami pun terdiam sesaat. 

“Aku mencarimu Na, tapi tak ada satu pun yang tahu keberadaanmu.” katanya,

Aku diam dan hanya mampu memandang matanya, berharap dia tahu betapa ku sangat merindukannya.

“Boleh aku tanya, untuk apa kamu mencari aku Tian?” Kataku.

“Aku mau meminta maaf saat itu aku sudah menyakiti mu Na.” jawabnya.

“Sudahlah, tak perlu ada yang dimaafkan, semua sudah berlalu kan. Dan sekarang entah bagaimana kita ketemu disini”kataku lagi.

“Aku boleh tanya lagi, Na?” 

“Iya boleh, mau tanya apa.?” Jawabku.

“Pernah kah sesekali kamu memikirkan aku.?” katanya.

 

Aku tersenyum dan berkata “bukan sesekali Tian, selama 6 tahun ini aku sudah berusaha mencoba untuk bisa berlalu dari memikirkan mu, tapi aku tak bisa.” kataku dengan pelan.

“Tapi ya sudahlah hanya seperti itu, memikirkan mu malah membuatku semakin kuat untuk menjalani semuanya, karena aku tahu jauh disana kamu juga sedang memikirkan aku kan ya.? Sambil aku tertawa kecil.

Dan dia hanya tertawa. 

 

Tidak terasa waktu berlalu, dan terdengar pengumuman bahwa pesawatku telah tersedia dan akan segera berangkat.

“Tian, maaf itu pesawatku, aku harus pergi. Anak-anakku sudah menunggu ku didalam”kataku 

“Iya Na, maaf ya jika membuatmu jadi terburu-buru”katanya.

 

Dia berdiri dan aku pun berdiri dihadapannya, seketika dia menarik tubuhku dan memelukku dengan sangat erat sekali. Ku dengar dentak jantungnya yang cepat, aku pun memeluknya dan seakan tak mau melepaskannya.

 

Hal yang kuinginkan selama ini, hanya ingin memeluknya. “Aku sangat merindukanmu Tian” kataku pelan.

Dia melepaskan pelukannya dan memandangku, tiba-tiba dia menarik wajahku dan ia pun mencium bibirku dengan lembut.

Ku lihat wajahnya dan kami pun kembali berciuman seakan-akan di saat ini hanya kami berdua yang ada didunia.

 

“Tian, aku harus segera pergi sekarang.” kataku, dan ia pun melepaskan tubuhku dan berkata:

“Na, mau kah kamu menungguku.?” Tanyanya 

“Untuk berapa lama Tian, 10 tahun atau 20 tahun kah.?” kataku.

Ia hanya tertawa kecil dan berkata “Hahaha, tidak Na. Kupastikan tidak selama itu. Tunggu aku pulang ke Jakarta ya” katanya.

Aku tersenyum “Iya, aku tunggu kamu di Jakarta” kataku.

Ia pun melepaskan genggaman tangannya, dan aku pun berjalan berlalu meninggalkannya.

 

Ketika rindu ini menjadi doa, dan IA menjawabnya dengan awal yang sulit namun berakhir indah.

Saat ini aku hanya ingin bersamanya, menjalani kehidupan ini dengan mengenggam tangannya.

Aku akan menunggumu karena aku punya rindu yang akan menjadi doa untukmu.

 

Comments

Popular posts from this blog

Di ujung senja

Luka yang membawa saya pulang.

Hanya sebentar, tapi berarti..