Natal yang Tidak Lagi Bertanya
Natal tahun lalu datang tanpa rencana.
Hanya dua orang yang duduk berdampingan, berbagi sunyi yang hangat. Lampu-lampu kecil menyala terlalu terang, seolah ingin memastikan bahwa kebahagiaan benar-benar ada malam itu. Tawa tidak sering, tapi cukup. Doa tidak panjang, tapi tulus.
Ia ingat betul caranya menatap lilin Natal, diam, dan khusyuk, seperti sedang menyimpan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Malam itu tidak ada janji. Tidak ada masa depan yang dibicarakan. Hanya kebersamaan, dan perasaan bahwa saat ini sudah cukup.
Setahun berlalu.
Natal kembali datang, membawa lagu yang sama, aroma yang sama, tapi tanpa kehadiran yang dulu mengisi kursi di sebelahnya. Tidak ada kabar. Tidak ada tanda. Bahkan namanya pun jarang berani ia sebut dalam hati.
Yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan kecil yang tak pernah menemukan alamat:
Apakah ia bahagia?
Apakah ia masih mengingat malam itu?
Atau kenangan itu hanya singgah sebentar, lalu pulang sendirian?
Ia belajar satu hal malam itu, bahwa tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk bertahan. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya dimengerti, lalu pergi sebelum kita sempat siap kehilangan.
Natal kali ini, ia menyalakan lilin sendiri.
Bukan untuk berharap kabar.
Tapi untuk mengucapkan terima kasih, karena pernah ada malam yang membuat hatinya merasa tidak sendirian.
Dan itu, ternyata, sudah cukup.
Comments
Post a Comment